Skip to main content

Analogy


This morning, in the class of CCTS, I told the story below to my students to generate better understanding how analogy is employed in the thinking process. I am expecting that they will come up with better examples out of their creative thinking process.

A man went to a barbershop to have his hair cut and his beard trimmed. As the barber began to work, they began to have a good conversation.

They talked about so many things and various subjects. When they eventually touched on the subject of God,

The barber said: "I don't believe that God exists."
"Why do you say that?"asked the customer.

"Well, you just have to go out in the street to realize that God
doesn't exist. Tell me, if God exists, would there be so many sick people? Would there be abandoned children?


If God existed, there would be neither suffering nor pain. I can't imagine a loving God who would allow all of these things."

The customer thought for a moment, but didn't respond because he didn't want to start an argument.


The barber finished his job and the customer left the shop. Just after he left the barbershop, he saw a man in the street with long, stringy,dirty hair and an untrimmed beard. He looked dirty and unkempt. The customer turned back and entered the barber shop again and he said to the barber: "You know what?

Barbers do not exist.""How can you say that?" asked the surprised barber. "I am here, and I am a barber. And I just worked on you!" "No!" the customer exclaimed.

"Barbers don't exist because if they did, there would be no people with dirty long hair and untrimmed beards, like that man outside."

"Ah, but barbers DO exist! " answered the barber. " What happens, is, people do not come to me.

"Exactly!"- affirmed the customer. "That's the point! God, too, DOES exist!

What happens, is, PEOPLE DON'T GO TO HIM AND DO NOT LOOK FOR HIM...

That's why there's so much pain and suffering in the world."

Don't forget to give God his due - Do Prayer !!!

Pena Tumpul - Interesting class

Comments

Popular posts from this blog

Rencah

P erjalanan berkereta dari Segamat ke Serting pagi ini pastinya membosankan kalau tidak disulami dengan bual bicara dan gurau ketawa. Tok Ya yang turut serta bersama isterinya selain isteri dan Haziq memecah kesunyian apabila setelah lima minit berlalu saya masih lagi senyap justeru tidak ada apa yang hendak dibualkan. Tok Ya menyuarakan rasa kesal dan terkilan di atas pemergian Pak Itam sebulan yang lalu. " Dia mungkin boleh diselamatkan kalau mendapatkan rawatan di pusat perubatan swasta ". Walau pun kematian Pak Itam sudah ditentukan Ilahi namun layanan dan rawatan yang diberikan oleh hospital kerajaan amat dikesalkan. Pak Itam dibiarkan berminggu-minggu terlantar di katil sebelum pembedahan dilakukan. Yang lebih mengecewakan lagi apabila kecuaian yang dilakukan semasa pembedahan sehingga berlakunya infeksi pada paru-paru. Ini fenomena biasa di hospital kerajaan. Tok Ya sempat menceritakan pengalamannya dirawat di dua hospital yang berbeza ini. Walaupun ribuan ringgit terp...

Batu

H ari ini anak saudara perempuan ini menyerahkan senarai yang cukup panjang nikmat Allah yang pernah dan sedang dikecapinya. Saya kagum kerana dia tidak ambil mudah tugasan yang diberikan itu. Segala nikmat anggota yang terlekat di tubuh tidak langsung tertinggal dalam senarainya.Nikmat melihat dan mendengar apatah lagi nikmat untuk terus hidup di bumi Tuhan yang luas ini. Saya kata padanya dalam banyak keadaan manusia mudah lupa bila Allah melimpahkan nikmatnya. Justeru itu Allah menyedarkan manusia di saat kealpaan itu agar tidak terus hanyut dibuai nikmat kesenangan dunia. Bila dalam keadaan tersepit barulah kita bergegas mencariNya. Saya ceritakan padanya kesah seorang pekerja di tapak projek bangunan yang memanjat di atas tembok yang sangat tinggi. Denko harus menyampaikan pesan penting kepada teman kerjanya yang ada di bawahnya. Denko berteriak-teriak, tetapi temannya tidak berupaya mendengarnya justeru gangguan bising dari mesin-mesin dan suasana yang hiruk pikuk di sekelilingn...

"Tidak"

H afiz sedang menangis yang sukar dipujuk sesampainya saya ke rumah Mantoba malam tadi. Kalau tidak dia pasti meluru mendapatkan saya menawar diri untuk di dukung. Kami berusaha memujuknya tetapi gagal malah raungannya bagai memecah gegendang telinga. Sebabnya sudah dijangka. Mantoba yang balik seminggu sekali pulang tanpa sebarang mainan untuk Hafiz seperti minggu-minggu sebelumnya. Dia gagal memenuhi permintaan Hafiz kali ini. Walaupun permainan yang ada sudah cukup banyak, kanak-kanak tetap kanak-kanak. Naluri mahukan sesuatu yang baru memang tidak boleh ditahan-tahan. Namun sebagai ibubapa, kita tidak selalunya perlu menurut segala kemahuan anak. Ada ketikanya kita perlu memilih untuk berkata "tidak" kepadanya walaupun ia mungkin bagaikan dos yang menyakitkan dan memilukan hatinya. Anak-anak perlu belajar mendepani keadaan dimana tidak semua kemahuannya bisa ditunaikan. Juga bersedia menjadi dewasa dan belajar untuk memahami hakikat hidup bahawa orang di sekeliling tidak ...