Skip to main content

Beruang

Suatu hari di Antartika, seekor beruang kutub sedang duduk di salju dengan anaknya. Tiba-tiba anak beruang bertanya, "Ayah, apakah saya 100% beruang kutub?"
Ayah beruang itu menjawab,

"Tentu saja, Nak. Kamu 100% beruang kutub!"
Beberapa menit kemudian, anak beruang itu kembali bertanya,
"Ayah, katakan yang sebenarnya. Saya pasti bisa menerima kenyataan. Betulkah saya 100% beruang kutub? Bukan beruang madu, bukan beruang coklat dan bukan beruang panda?"

Si Ayah beruang itu menjawab,
"Nak, ayah 100% beruang kutub, dan ibumu 100% beruang kutub, jadi kamu juga jelas-jelas 100% beruang kutub."

Setelah beberapa menit berlalu, si anak bertanya lagi,
"Ayah, jangan berpikir kalau Ayah berkata jujur akan membuat saya sedih. Saya tidak
sedih. Saya cuma ingin tahu, apa saya benar-benar 100% beruang kutub?"
Ayah beruang mulai tertekan dengan pertanyaan-pertanyaan anaknya. Kini dia
balik bertanya kepada si anak,

"Nak, kenapa kamu terus meragukan kalau kamu memang 100% beruang kutub?"
Si anak beruang menjawab,

"Karena saya kedinginan!"


Comments

Popular posts from this blog

"Tidak"

H afiz sedang menangis yang sukar dipujuk sesampainya saya ke rumah Mantoba malam tadi. Kalau tidak dia pasti meluru mendapatkan saya menawar diri untuk di dukung. Kami berusaha memujuknya tetapi gagal malah raungannya bagai memecah gegendang telinga. Sebabnya sudah dijangka. Mantoba yang balik seminggu sekali pulang tanpa sebarang mainan untuk Hafiz seperti minggu-minggu sebelumnya. Dia gagal memenuhi permintaan Hafiz kali ini. Walaupun permainan yang ada sudah cukup banyak, kanak-kanak tetap kanak-kanak. Naluri mahukan sesuatu yang baru memang tidak boleh ditahan-tahan. Namun sebagai ibubapa, kita tidak selalunya perlu menurut segala kemahuan anak. Ada ketikanya kita perlu memilih untuk berkata "tidak" kepadanya walaupun ia mungkin bagaikan dos yang menyakitkan dan memilukan hatinya. Anak-anak perlu belajar mendepani keadaan dimana tidak semua kemahuannya bisa ditunaikan. Juga bersedia menjadi dewasa dan belajar untuk memahami hakikat hidup bahawa orang di sekeliling tidak ...

Batu

H ari ini anak saudara perempuan ini menyerahkan senarai yang cukup panjang nikmat Allah yang pernah dan sedang dikecapinya. Saya kagum kerana dia tidak ambil mudah tugasan yang diberikan itu. Segala nikmat anggota yang terlekat di tubuh tidak langsung tertinggal dalam senarainya.Nikmat melihat dan mendengar apatah lagi nikmat untuk terus hidup di bumi Tuhan yang luas ini. Saya kata padanya dalam banyak keadaan manusia mudah lupa bila Allah melimpahkan nikmatnya. Justeru itu Allah menyedarkan manusia di saat kealpaan itu agar tidak terus hanyut dibuai nikmat kesenangan dunia. Bila dalam keadaan tersepit barulah kita bergegas mencariNya. Saya ceritakan padanya kesah seorang pekerja di tapak projek bangunan yang memanjat di atas tembok yang sangat tinggi. Denko harus menyampaikan pesan penting kepada teman kerjanya yang ada di bawahnya. Denko berteriak-teriak, tetapi temannya tidak berupaya mendengarnya justeru gangguan bising dari mesin-mesin dan suasana yang hiruk pikuk di sekelilingn...

Rencah

P erjalanan berkereta dari Segamat ke Serting pagi ini pastinya membosankan kalau tidak disulami dengan bual bicara dan gurau ketawa. Tok Ya yang turut serta bersama isterinya selain isteri dan Haziq memecah kesunyian apabila setelah lima minit berlalu saya masih lagi senyap justeru tidak ada apa yang hendak dibualkan. Tok Ya menyuarakan rasa kesal dan terkilan di atas pemergian Pak Itam sebulan yang lalu. " Dia mungkin boleh diselamatkan kalau mendapatkan rawatan di pusat perubatan swasta ". Walau pun kematian Pak Itam sudah ditentukan Ilahi namun layanan dan rawatan yang diberikan oleh hospital kerajaan amat dikesalkan. Pak Itam dibiarkan berminggu-minggu terlantar di katil sebelum pembedahan dilakukan. Yang lebih mengecewakan lagi apabila kecuaian yang dilakukan semasa pembedahan sehingga berlakunya infeksi pada paru-paru. Ini fenomena biasa di hospital kerajaan. Tok Ya sempat menceritakan pengalamannya dirawat di dua hospital yang berbeza ini. Walaupun ribuan ringgit terp...